BIOGRAFI

Penulis dilahirkan dari pasangan Djumingin Prasodjo dan Mulyani, di RS Muhamadiyah Jakarta pada 1 Juli 1982. Anak ke-3/terakhir dari tiga bersaudara yang kesemuanya adalah laki-laki (Haryanto dan Hartono). Penulis diberi nama Totok Yuliyanto oleh orang tuanya dengan harapan menjadi seorang laki-laki tegas yang dilahirkan pada bulan Juli. Kedekatan Penulis dengan dunia hukum khususnya penegak hukum sudah ditandai ketika proses lahiran semua suster sibuk menonton film “Chips” yang sangat terkenal waktu itu, Bapak Penulis yang merupakan anggota kepolisiaan harus absen dari upacara Bhayangkara di Komdak (sekarang namanya Mabes Polri).

Setelah melewati pendidikan di keluarga dan masyarakat sekitar, pada tahun 1990 penulis mulai masuk dalam suatu sistem belajar non formal dengan kemasan bermain di TK. Bhakti Pangkalan Jati. Setelah menyelesaikan pendidikan formal di TK dengan memperhatikan umur yang pas, Penulis mulai dikenalkan dengan sistem pendidikan formal di Sekolah Dasar 09 Pondok Labu. Kecerdasan penulis sudah terlihat sejak duduk dibangku sekolah dasar, yang selalu masuk dalam 15 besar siswa terpintar di kelas (halah 15 besar saja bangga)

Selesai mengenyam pendidikan dasar, Penulis melanjutkan ke pendidikan tingkat pertama di SMP Negeri 85. Disana penulis selain mengenal dunia pendidikan juga mengenal pergaulan. Sebagai remaja yang tumbuh penulis mulai tertarik dengan hal-hal baru dan menantang. Seperti burung yang baru bisa belajar terbang penulis mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainya, yang kadang kala harus menerobos aturan aturan yang ada.

Young and Dangerous

Pada tahun 1997, tidak seperti rekan-rekanya di SMP 85 yang memilih SMUN 34 dan SMUN 66, Penulis memilih SMUN 46 yang terletak di daerah BLOK A. sekolah yang pernah mendapat cap sebagai sekolah yang sering terlibat perkelahiaan sekolah dengan julukan sebagai TEXAS 46 (Tentara Extrimis Anti STM), yang mengklaim sebagai Jawara Jakarta Selatan.

Awal mula penulis masuk sebagai murid SMUN 46, penulis seperti murid baru lainya, harus mengalami proses penyesuaiaan diri dari kenakalan di waktu SMP dengan kenakalan di waktu SMU. SMUN 46 dengan predikat jawara selatan, bukan hanya ditakuti oleh berbagai sekolah lainya tetapi juga mendatangkan musuh dan kebencian dari sekolah lainya.

Sejak pertama masuk sekolah penulis harus membiasakan hidup dengan ancaman dan ketakutan. Penulis yang bergabung dengan basis Zhoget 610 yang merupakan suatu perkumpulan murid SMUN 46 yang berasal dari Pondok Labu dan sekitarnya dengan menggunakan Metro Mini 610, menciptakan solidaritas untuk menjunjung nama baik Texas 46 (sebutan jalanan untuk SMUN 46 Jakarta). Disana penulis mempelajari arti penting kelompok dan pertemanan. Kelompok dan teman tidak hanya sebagai tempat cerita dan pengalaman susah senang bersama juga menjadi tempat / wadah teraman untuk nyawa penulis.

Pasca kejadiaan bentrok berdarah di perempatan DDN (suatu daerah di Pondok Labu) dimana Penulis, menjadi bulan-bulanan pihak lawan dengan kuping yang hampir putus, ditambah lagi harus menjalani masa skorsing selama 1 bulan, mengakibatkan penulis mulai berhati-hati. Penulis juga mulai kembali fokus kedalam pelajaran dan menikmati masa menjadi ketua kelas di kelas 3 SOS 4 SMUN 46, walaupun seperti itu tetap aktif olahraga di Jalanan.

Renainsance

Penulis yang tidak pintar-pintar amat, dengan dorongan dan ajakan dari teman mencoba untuk masuk perguruan tinggi. Dengan harapan agar bisa tinggal jauh dari orang tua dengan tidak memberatkan orang tua, akhirnya penulis mencoba mendaftar di Universitas Lampung (UNILA) untuk fakultas hukum. Pada tahun 2000 dengan se izin Allah SWT akhirnya penulis dapat kuliah di Fakultas Hukum UNILA, melalui program UMPTN (Pertama kali nama penulis dicetak dalam surat kabar). Kondisi Lampung yang ternyata amat berbeda dengan Jakarta ditambahnya pola hidup yang mandiri membuat penulis untuk hati-hati dan cermat dalam menentukan langkah.

Merasa sendiri dan terasing di tanah orang dan jauh dari teman-teman sewaktu kecil dan sekolah dahulu, membuat penulis masuk dan terlibat dalam organisasi mahasiswa HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat Hukum UNILA. Sebagai wadah mahasiwa yang beragama islam dengan pendekatan liberal membuat penulis betah untuk berteman dengan mempelajari agama islam. 2,5 tahun terakhir Penulis tinggal di seketariat atau yang biasa disebut Komisariat.

Berbeda dengan kawan-kawanya di HMI yang cenderung memiliki ketertarikan dengan politik, Penulis lebih memilih ketertarikan dalam kajiaan dan pengembangan ilmu pengetahuaan, walaupun demikian sumbangsih pemikiran, kerja dan finansial untuk mendukung gerakan-gerakan politik teman sejawat dan organisasi tidak perlu menjadi keraguaan. Organisasi bagi Penulis adalah Keluarga sehingga, Penulis cenderung menjauhkan diri dari konflik dan tetap menjaga komunikasi dengan anggota keluarga lainya.

Walaupun tergabung dalam HMI, penulis tetap bergaul dengan kawan-kawan yang berbeda ideologi, politik, hobi dll. Penulis ingin terbebas dari cap anak HMI yang Eklusif. Penulis juga aktif di berbagai organisasi intra Kampus. Pada tahun 2001, Bersama beberapa orang Penulis mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa yang bernama “Mahasiswa Pengkaji Masalah Hukum” dan bertindak sebagai Presidium. Pada tahun 2002 Penulis bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa FH Unila sebagai, Kepala Bidang Hubungan antar lembaga. Untuk lebih memfokuskan kepada hukum Perdata sebagai penjurusan, Penulis Aktif menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Perdata FH UNILA.Selama 3 bulan pada tahun 2003 Penulis mengikuti program pelatihan kerja di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Keaktifan penulis diberbagai organisasi eksternal, dan kemampuan akademis penulis, mengakibatkan Penulis seringkali mendapatkan beasiswa, terhitung sekitar 3 semester saja Penulis membayar iuran SPP.

Pada Agustus 2004, Penulis harus menghadapi kenyataan Ayahanda dipanggil oleh Allah SWT, tanpa mengalami sakit/gejala-gejala.  Jarak yang memisahkan antara Bandar Lampung dan Jakarta, serta minimnya sarana transportasi saat itu, mengakibatkan Penulis tidak bisa mengantarkan Ayahanda ketempat peristirahatan terakhir. Penulis mencoba bersikap tegar, mengingat Ibuda Penulis baru saja menyelesaikan operasi pengangkatan tumor Payudara. Selama 6 Bulan, Penulis menemani Ibunda  untuk menjalani berbagai macam pengobatan. Hal ini mengakibatkan penulisan penelitian (skripsi) yang diberi nama “Studi Eksploratif Pendaftaran Indikasi Geografis” menjadi tertunda, belum lagi Penulis juga mengikuti pendidikan DI Bahasa Inggris dan Komputer di Teknora.

Akhirnya, pada 29 Desember 2005 Penulis menyelesaikan masa kuliahnya (diwisuda). Penulis menjadi orang pertama dalam Keluarganya yang berhasil mendapatkan gelar sarjana, hal tersebut merupakan impian Ayahanda penulis agar dapat mengambil gelar sarjana, sayangnya Ayahanda hanya bisa menyaksikan Wisuda Penulis dari sisiNya.

 

PENGABDIAN

Foto Bersama dengan dengan Adnan Buyung N dan Abdurahman Saleh

Foto Bersama dengan dengan Adnan Buyung N dan Abdurahman Saleh

Besarnya keinginan Penulis untuk langsung beraktifitas dalam praktek hukum, Penulis mengabaikan tawaran-tawaran pekerjaan yang tidak memiliki hubungan dengan dunia hukum. Pada  bulan Maret 2006 penulis mendampingi Ibunda berobat ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), untuk mengisi waktu menunggu pada suatu hari penulis berjalan-jalan disekitaran JL. Diponegoro dan menemui gedung LBH Jakarta/YLBHI. Penulis mencoba melihat-lihat kondisi didalam, mungkin karena sudah ditakdirkan, penulis bertemu seniornya di Kampus yang saat itu sedang mengambil formulir untuk mengikuti Karya Latihan Bantun Hukum (Kalabahu) di LBH Jakarta, Sang Senior langsung membelikan formulir pendaftaran yang pada saat itu bernilai Rp. 10.000. Sebagai seorang mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi, berdiskusi dan membahas permasalahan hukum memudahkan Saya untuk menjawab pertanyaan seleksi awal di fomulir Kalabahu. Setelah mengalahkan sekitar 100 orang  yang mendaftar saat itu, akhirya Penulis bersama 45 orang lainnya untuk mengikuti KALABAHU.

Asisten Pengacara Publik LBH Jakarta 2006-2007

Asisten Pengacara Publik LBH Jakarta 2006-2007

KALABAHU bagi penulis dan sebagian besar peserta tidak hanya memberikan pemahaman dibidang hukum, teknis bantuan hukum namun juga perspektif bagi seorang pembela hukum. Pada saat KALABAHU penulis juga bertemu dengan rekan-rekan alumni dan mahasiswa akhir hukum dan membangun pertemanan yang baik hingga sampai saat ini. KALABAHU juga mempertemukan Penulis dengan seseorang yang menjadi pasangan dalam mengarungi kehidupan.  Sampai saat ini Saya masih takjub bagaimana LBH Jakarta membuat KALABAHU dan menjadikan magnet sehingga Lebih dari peserta KALABAHU ingin bergabung di LBH Jakarta. Untuk bergabung di LBH Jakarta tidak semudah seperti yang dibayangkan selain harus menempuh KALABAHU, mereka kemudian harus mengikuti seleksi untuk menjadi asisten pengacara publik kemudian diseleksi kembali untuk menjadi Pengacara Publik di LBH Jakarta. Pada awalnya ketika mengikuti KALABAHU, Penulis tidak memiliki niat untuk bergabung di LBH Jakarta, namun melihat tujuan LBH Jakarta dan pola persaingan untuk dapat menjadi Asisten Pengacara Publik di LBH Jakarta, Penulis mengikuti Ujian Seleksi penerimaan Asisten Pengacara Publik di LBH Jakarta. Dari sekitar 30 orang yang mengikuti seleksi menjadi asisten pengacara publik, penulis lulus ujian bersama 10 alumni KALABAHU

Seperti kata pepatah “Obat yang paling pahit adalah obat yang paling manjur”, itu yang dirasakan Penulis ketika pertama kali bergelut dibidang praktek hukum di LBH Jakarta. Walaupun asisten pengacara publik (APP) bersifat voluntarian (sukarelawan) namun Penulis masuk setiap hari kerja dan seringkali bekerja di hari-hari libur. Beraktivitas di LBH Jakarta pada sebagai APP pada saat itu bukanlah bertujuan mencari uang, umumnya para APP mendapatkan pergantian operasional setiap minggunya dengan jumlah yang sangat tergantung dari kehadiran. Uang tersebut umumnya hanya bertahan sampai Rabu, penyisiatan pembelian pokok makanan seperti Mie menjadi penyiasatan jitu mencegah kelaparan. Beberapa Kasus besar pada saat itu pernah ditangani oleh Penulis seperti Kasus Lia Eden, Gugatan Citizen Lawsuit Ujian Nasional, Pendampingan kasus mahasiswa yang melakukan penghinaan presiden dan banyak lagi. Pada hari biasa umumnya seorang Asisten Pengacara Publik minimal melakukan konsultasi untuk 7 kasus baru. Prinsip dalam memberikan konsultasi yang digunakan oleh LBH Jakarta adalah membantu pencari keadilan bersama-sama menemukan hukum oleh karena itu saran yang diberikan harus memiliki landasan hukum yang jelas dan harus ditunjukan oleh asisten pengacara publik ke Pencari Keadilan. Kebiasaan tersebut memperkaya khazanah hukum Penulis untuk mengetahui berbagai isu hukum dasar hukum dan upaya pemecahannya.

Berbekal pesan dari Asfinawati Direktur LBH Jakarta pada saat itu yang mengatakan Pengacara baik di LBH itu tidak hebat, namun menjadi pengacara baik diluar LBH itu lebih hebat. Berbekal dari perkataan tersebut, setelah Satu tahun penulis keluar dari LBH Jakarta dan awalnya membantu beberapa teman senior yang memiliki kantor atau membantu penanganan kasus. Ibarat seorang bayi yang dilahirkan di dunia, penulis melihat bagaimana hukum dipraktekan, merasa tidak nyaman dengan hancur dan bobroknya sistem yang ada dan berimbas pada penanangan kasus. Penulis bergabung di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Nasional. Selain karena organiasi bantuan hukum yang berlandaskan Hak Asasi Manusia, bentuk PBHI sebagai perkumpulan dari anggota-anggota dan pola pendanaan yang berasal dari anggota menjadi daya tarik tersendiri bagi Penulis.

PKPA bersama Penggiat HAM dan Bantuan Hukum

PKPA bersama Penggiat HAM dan Bantuan Hukum

Penulis bergabung di PBHI Nasional dibagian Bantuan Hukum dan Advokasi HAM, walapun pada saat bergabung posisi penulis adalah sebagai Volunteer namun karena pada saat itu terjadi perubahan pengurus yang sangat besar di PBHI mengakibatkan Penulis harus bisa mengambil peran sebagai Staff maupun kepala Advokasi. PBHI mengajarkan penulis mengetahui mengenai nilai dasar HAM dan bagaimana memperjuangkannya. Pola  Advokasi diterapkan di PBHI dimana tidak semua kasus ditangani namun lebih spesifik terhadap perubahan kebijakan, kultur dan sistem. PBHI Nasional sebagai lembaga induk dari 10 kantor wilayahnya mengakibatkan penulis memiliki kesempatan untuk bertemu dengan para penggiat HAM diberbagai wilayah. Pengalaman sulitnya mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) karena biayanya yang tinggi dan terbatasnya akses yang diberikan LBH pada saat itu, Penulis memanfaatkan program kerjasama PBHI dengan PERADI untuk membuat dan menyelenggarakan PKPA tidak hanya bagi internal PBHI namun juga kepada mitra kerja PBHI lainya. Program PKPA ini masih berjalan hingga saat ini dan Penulis berharap PBHI dapat menjadi sarana bagi Penggiat HAM dan Bantuan hukum untuk menjadi Advokat.

PBHI dan Koran FajarMenjadi Penggiat HAM yang bersifat Voluntarian tidak menghambat Penulis untuk mewujudkan hakekat sebagai manusia yakni menikah, membentuk keluarga dan berkembang biak. Penulis beruntung Allah SWT mempertemukan Penulis dengan Diyah Stiawati pada Kalabahu 2006, sebagai rekan yang menemani perjalanan. Hubungan lebih dari teman yang dijalin pasca Kalabahu, pada 4 Juli 2009 pernikahan Penulis dan Diyah Stiawati dilangsungkan. Aditya Rafanda Yustia menjadi buah dari hasil pernikahan tersebut.

15 thoughts on “BIOGRAFI”

  1. saudara se ideologi dg saya ketika di organisasi: HMI sy baru sj selesai mengkuti PKPA Peradi atas tugas dari kantor.sebagai Head of Legal di sebuah BUMN dan rencananya juga mo ikut Ujian advokat juli mendatang doakan lulus

  2. Semoga sukses. Tahun berapa ativ di HMI. aku tertarik ikut jejak anda untuk terjun dalam dunia advokasi. yang salama ini saya hanya teoritis, namun kini semakin tertarik ke dunia hukum yang lebih praktis.

  3. Tok, tampaknya nanti2 kalau loe udah menjadi “seseorang”, orang yg menulis Biografi ttg loe tinggal menambahkan penjabaran Biografi loe di Blog ini🙂.

    Ya, semoga kita sama2 kelak menjadi “angkatan” yg mengukir “prestasi”. Amin

    • Bambang Herawan said:

      mas Totokyulianto, apa kabar mas Totok alumni UNILA sama dengan saya tamat tahun 2007, saya sekarang kerja di BNP2TKI Jakarta Jl. MT Haryono 52, kalau boleh kenalan no hape saya 08129307258, trim’s

      • Bambang Herawan said:

        mas saya juga baru selesai kursus Advokat Angkatan IX 2010 tinggal nunggu ujian

  4. SUGENG DWIKA PANJI KERTIYOSO said:

    ass.
    saya ingin jd advkat yg berkualitas tp ilmu saya masih nol, saya minta bimbingannya, saya kuliah di UIN sgd Bandung semester 7.

  5. Thanks Tok,,, mengingatkan jalan hidup yang hampir mirip…. Sukses

  6. bos ,,,,kita sama2 ex 46′,,,bos mau tanya ni saya selesai pkpa desember 2011 tp mau ikut pkpa mendatang ,,,ga tau kapan,,,pkpa saya masih berlaku kan apa sudah daluarsa,,,trims senior

    • totokyuliyanto said:

      Woy alumni 46, dirimu angkatan berapa. kalau PKPA mah setau gw gak ada daluwarsanya tuh, asal udah dapat sertifikat PKPA gak usah ikut PKPA lagi tinggal ujian. tahun ini katanya ujian bulan Januari 2014

  7. Ngeri juga masa SMA nya abangku ini

  8. Mas bro, baca tulisan lo jd teringat memory indah waktu kita smp dan sma… hahaha

    Kapanlah kita ex team zhoget 610 kumpul2, mengenang masa2 berjuang bersama… hahaha

    • totokyuliyanto said:

      Beberapa kali diundang untuk acara kumpul dengan alumni 46 atau All Base dari yang baru sampai yang menjadi legenda di masanya….serem euy berkumpul dengan para jawara…..bisa membangkitkan jiwa muda….email apa Le?

  9. budi buncis said:

    Tok……miss u all Guys….but don’t know

    When we’ll meet again….

    Sukses buat kalian semua,yah..

    • totokyuliyanto said:

      Woy Budi, kenapa nama loe jadi Budi Buncis yah? Budi ini adalah orang yang selalu mengingatkan anggota tim tidak melupakan pendidikan, Kita bertarung untuk mencapai sekolah atau pulang dari Sekolah manfaatkan pendidikan di sekolah sebaik-baiknya” We Miss U Bud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s