Hari senin lalu saya mendapatkan kabar dari rekan saya perihal rencana penggabungan dua organisasi advokat untuk membentuk wadah tunggal, pada awalnya saya tidak percaya sampai saya membaca beita tersebut di VIVAnews dan http://hukumonline.com/berita/baca/lt4c236e3aded5d/perdamaian-semu-peradikai tentang pertemuaan kedua organisasi advokat untuk membuat nota kesepahaman mengenai wadah tunggal organisasi advokat, dan hal tersebut disambut baik oleh ketua MA.

Sebagai advokat yang dilantik oleh PERADI namun belum disumpah oleh PT, karena ada hambatan dari MA (lihat tulisan sebelumnya Keputusan MA VS Kebebasan dan kemandirian calon advokat) saya menyambut baik adanya nota kesepahaman. Sebagai orang yang menjalankan profesi advokat, memang diperlukan suatu organisasi profesi (terserah mau bentuk singgle bar ataupun multi bar) sebagai wadah yang melakukan pengawasan dan peningkatan jalanya suatu profesi. Dengan adanya kemelut ditubuh organisasi advokat, menimbulkan ketidak pastiaan dalam menjalankan profesi, khususnya bagi para calon advokat yang baru akan masuk dalam dunia profesi yang mendapatkan imbas tidak diakui oleh MA karena tidak disumpah oleh Pengadilan Tinggi, walaupun menurut saya itu adalah kesalahan oleh MA dan Pengadilan Tinggi yang tidak mau melaksanakan UU Advokat.

Nota kesepahaman yang merupakan cikal bakal bergabungnya dua organisasi advokat yang mengklaim paling benar dan sah menurt UU harus dijaga dari unsur ke egoisan masing-masing, benih ke egoisan sudah mulai muncul dari klaim organisasi advokat. salah satu kubu menanggap nama organisasinya lah yang paling benar dan organisasi advokat yang lain mengakui nama tersebut, namun hal tersebut dibantah oleh organisasi tersebut dengan mengatakan nama organisasi tunggal telah dicoret dan mengusulkan logo organisasinyalah yang dipergunakan.

Benih-benih keegoisan yang seperti kekanak-kanakan tersebut haruslah dipendam dan dihilangkan dan dibicarakan secara baik, karena masing-masing organisasi memiliki beban terhadap anggotanya yang tidak memiliki kepastian. bagi saya tidak ada masalah bila terjadi peleburan sehingga menimbulkan nama baru misalkan Perhimpunan Advokat Kongres Indonesia, dengan logo mirip KAI dan font tulisan mirip PERADI. atau apalah namanya dan logonya, hal tersebut bersifat teknis.

Bila tujuaannya ingin bersatu dan berdamai maka keduabelah pihak harus bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah teknis, sehingga tujuaan awalnya bisa tercapai. bilapun terjadi permasalahan teknis yang sulit dipecahkan maka bisa meminta bantuan Ketua MA sebagai mediator untuk membantu memecahkan atau pilih arbitrase sebagai bentuk penyelesaian sehingga menimbulkan win-win solution, jangan ke pengadilan yang memenangkan satu pihak dan mengalahkan satu pihak yang berujung kerugian bagi anggotanya.

Sekali lagi saya meminta kepada rekan-rekan sesama advokat yang sudah melintang di profesi ini jauh dari saya, dalam melaksanakan tugas kita boleh berfikir menang dan menjujung kepentingan klien, namun dalam menyelesaikan permasalahan di tubuh internal kita sendiri untuk saling bersabar, saling pengertian dan terbuka demi terwujudnya persatuan.

HIDUP ADVOKAT, HIDUP OFFICIUM NOBILE