Sungguh sial ketika saya dilahirkan di negeri nusantara
Alam Nusantara yang begitu hijau dengan kekayaan alam melimpah
Para pemimpin yang gagah dengan janji kesejahteraan
Ternyata hanya kamuflase, dan sebuah kenisatayaan

Sungguh sial nasib hamba
Harus hidup di bumi nusantara
Alam nusantara yang indah dengan kekayaan alam yang melimpah
Tetapi hanya dimiliki oleh segelintir orang

Oooh………… sial sekali nasib masyarakat nusantara
Ketika keindahan alam dan kekayanya tidak bisa dimanfaatkan
Para penguasanya hanya berlomba bagaimana meningkatkan kekayaanya
Seluruhnya dijual tanpa mempedulikan nasib rakyatnya

Sial sekali nasib kami harus tunduk
Pemimpin yang arogan dan buta oleh kekayaan dan kekuasaan
Dimana masyaraktnya menjerit, kehilangan kesejahteraan
Mereka hanya asik menghitung laba

Sudah saatnya perubahan nasib bagi diriku dan bangsa ini
Nasib bukan merupakan pemberian yang harus diterima
Nasib merupakan suatu yang harus diperjuangkan
Dengan modal suara sumbang, Ku coba teriakan penderitaan ini

Sungguh sial perjuangan kami
Pemerintah ternyata lebih cerdik dari kami
Membuat perangkap dengan aturan dan kebebasan semu
Membuat kami jatuh dan terstigma sebagai pembuat keonaran

Perlawanan kami tidak pernah berhenti dan tak akan terhenti
Walapun kami harus mengeluarkan keringat dan darah
Terus berjuang untuk meneriakan suara kemiskinan kami
Berharap keadilan yang menggunakan nama Tuhan berpihak pada kami

Walk Out dari sidang

(dibacakan dalam Nota Pembelaan di PN Jakarta Utara dalam Perkara pidana No 2025/Pid.B/2007/PN.JKT.UT dengan Terdakwa Untung dan Carya)