Picture 014
Kebebasan menyampaikan pendapat, berekspresi dan bertukar informasi yang menjadi nyawa para bloger, pecinta face book dan anggota milist ataupun siapa saja yang mengakui dunia maya (intenet) sebagai ruang kehidupan kedua akan TERANCAM.

Ancaman tersebut memang sudah ada sejak diaturnya penghinaan di ranah dunia maya yang secara hukum diatur dalam Pasal 27 ayat (3) UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan transaksi elektronik. Ancaman tersebut sempat dilawan dengan diujikannya Pasal 27 ayat (3) UU ITE oleh Tim Advokasi Untuk Kemerdekaan Berekspresi di Indonesia (Lihat Permohonan Pengujian Pasal 27 ayat (3) UU No 1 Tahun 2008. Tetapi permohonan tersebut  kandas dan ancaman tetap berjalan setelah Majelis Hakim Konstitusi RI pada 5 Mei 2009 memutuskan bahwa Pasal 27 ayat 3 UU ITE telah sesuai dengan konstitusi.

Permohonan Pengujiaan Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang mengatur masalah penghinaan yang diajukan susah payah oleh Tim Advokasi Untuk Kemerdekaan Berekspresi di Indonesia dengan menggunakan dalil bahwa Pasal 27 ayat (3) UU ITE bertentangan dengan prinsip-prinsip negara hukum, Melanggar prinsip kedaulatan rakyat, melanggar Asas Lex Certa dan kepastian hukum, sangat berpotensi disalahgunakan berpotensi melanggar kebebasan berekspresi, berpendapat, menyebarkan informasi dan mempunyai efek jangka panjang yang menakutkan. Permohonan Tim Advokasi Untuk Kemerdekaan Berekspresi di Indonesia juga didukung oleh berpuluh-puluh bukti, ratusan petisi masyarakat Indonesia, pendapat para ahli dari Indonesia dan luar negeri.

Permohonan Tim Advokasi Untuk Kemerdekaan Berekspresi di Indonesia dimentahkan bulat-bulat oleh hakim dengan pertimbangan : masih diperlukannya peraturan untuk dunia maya, Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak akan mematikan kebebasan berekspresi, berpendapat dan bertukar informasi, sedangkan aturan dalam KUHP tidak bisa merambah dunia maya. Majelis Hakim konstitusi juga memberikan pertimbangan kebebasan berpendapat dan berekspresi bukan berarti kebebasan yang sebebas-bebasnya, karena kebebasan yang sebebas-bebasnya dapat menggiring pelaksanannya menjadi sebuah supra kekuasaan yang tidak tersentuh oleh siapa pun dll.

Atas putusan tersebut kita sebagai pengguna dunia maya baik bloger, face book, anggota milist dll harus hati-hati karena setiap tulisan yang kita up loud dapat menyebabkan kita dikenakan hukuman penjara maksimal 6 tahun. Nah kalau seperti itu makin sulit saja saya menuilis, dan mendapat informasi didunia maya.

Semoga tulisan ini tidak membawa saya menginap dihotel prodeo selama 6 tahun (namanya juga masih belajar)