Tolak Penyiksaan

Tolak Penyiksaan

Kami mendukung segala bentuk upaya yang akan ditempuh oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk menutup Penjara Guantanamo sebagai fasilitas penyiksaan ke dalam program 100 hari kerjanya. Sistematisasi penyiksaan yang telah diciptakan oleh rezim Pemerintahan Bush dalam Penjara Guantanamo telah menciptakan sebuah anomali global karena Amerika Serikat adalah bangsa besar yang amat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Namun tindakan penyiksaan terhadap para tersangka terorisme tersebut menihilkan sebuah bentuk kewajiban internasional yang selama ini selalu dibanggakan Amerika Serikat.

Penyiksaan bukanlah satu adat politik kontemporer global, demikian juga dengan aksi terorisme sebagai bentuk kejahatan yang tidak bisa dibenarkan oleh satu alasan apapun. Namun melawan terorisme dengan tindakan kejahatan serupa justru melahirkan bentuk kontra produktif lainnya. Maka dengan menutup salah satu fasilitas penyiksaan internasional tersebut, Amerika Serikat telah mengembalikan nilai moral selayaknya bangsa beradab yang menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan.

Menutup Guantanamo sebagai fasilitas penyiksaan adalah langkah awal yang harus dilakukan oleh Barack Obama untuk mengungkap pelanggaran HAM serupa di yang terjadi di fasilitas tahanan rahasia AS di tempat lain, seperti di Afganistan, th British Indian Ocean territory of Diego Garcia, Yordania, Pakistan, Thailand, dan Eropa Timur. Selain itu upaya ini juga bisa menjadi teladan positif AS untuk ikut berkontribusi dalam menghapuskan praktik penyiksaan di dunia.

Penyiksaan di satu pihak sudah dinyatakan sebagai salah satu jenis kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) Ironis, karena penyiksaan di satu pihak sudah dinyatakan sebagai salah satu jenis kejahatan di bawah hukum internasional (jus cogens) yang juga diharamkan di masa perang sekali pun, namun di lain sisi penyiksaan masih dipraktikkan secara luas di dunia, termasuk di Indonesia, khususnya terhadap para tersangka dan tahanan.

Di Indonesia sendiri sejarah tentang penyiksaan telah berlangsung lama. Penahanan sewenang-wenang terhadap ratusan ribu orang paska peristiwa 1965-1966 menjadi catatan kelam sejarah penyiksaan yang hingga kini masih membawa implikasi sosial dan politik nasional. Masyarakat sipil Indonesia masih dan terus berjuang agar segala bentuk penyiksaan dalam wujud apapun tidak akan pernah terulang lagi. Apa yang telah dilakukan dalam kebijakan Pemerintah Amerika Serikat ini dikecam tidak hanya karena merupakan bentuk pelanggaran HAM yang sistematis tetapi juga menjadi contoh buruk bagi pemerintahan lain dan pengalaman serupa di dunia. Rezim-rezim pelaku penyiksaan bisa menggunakan alasan bahwa karena praktik itu diterapkan oleh Pemerintah Amerika Serikat, maka pihak lain tidak bisa menggugat rezim-rezim tersebut menyangkut catatan buruk pelaksanaan HAM di negeri mereka masing-masing. Dalam konteks ini “Perang Melawan Teror” telah menimbulkan prasangka dan menghambat proses pembangunan perdamaian dunia.

Perubahan yang kita harapkan dari Barack Obama sudah seharusnya memiliki langkah-langkah politik global guna mengembalikan martabat kemanusiaan (human dignity) yang telah dilanggar secara sistematis oleh Amerika Serikat sendiri. Presiden Obama harus membuktikan janjinya seperti dinyatakan pada pidato pelantikannya: Persamaan hak semua manusia serta mendorong perdamaian dunia. Oleh karena itu kami, Kaum Muda Indonesia untuk Martabat Kemanusiaan (The Indonesian Youth for Humanity) dengan ini meminta kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk segera janji kampanye politik internasionalnya dengan menutup Penjara “Perang Melawan Teror” sebagai langkah konkrit untuk membangun perdamaian dan melindungi proses penegakan HAM. Kami juga mendesak agar segala bentuk dukungan fasilitas, pendanaan dan infrastruktur kemiliteran yang diberikan oleh Amerika Serikat dalam perang-perang mutakhir antar negara dan bangsa untuk dihentikan segera seperti yang terjadi di Gaza, Palestina. Dan secara khusus kami meminta kepada PBB agar ikut membantu proses penyelesaian berbagai konflik kemanusiaan yang melibatkan unsur penyiksaan di seluruh belahan dunia.

Jakarta, 21 Januari 2009
Kaum Muda Indonesia untuk Martabat Kemanusiaan